Uang 100.000 | Forex Mart

Friday, 10 July 2015

Uang 100.000 | Forex Mart

Uang 100.000 | Forex Mart

Uang 100.000 | Forex Mart

Uang 100.000 | Forex Mart
Uang 100.000 | Forex Mart

Monday, 11 May 2015

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Delapan Hari Tanpamu

Aku terbangun karena teriakan teman kosku, dia berteriak dari ventilasi kamar, dan berkata bahwa terjadi kebakaran di kamar kos bawah. Aku terbangun kelimpungan dan ternyata aku dikerjai habis-habisan. Aku hanya mengumpat dia beberapa kali, kemudian berbaring lagi. Kutatap langit-langit kamar yang putih dan perasaan hampa itu datang lagi. Aku tak tahu perasaan ini namanya apa, aku juga tak ambil pusing harus sibuk menamai perasaan aneh ini, tapi rasanya yang aku jalani semakin berbeda, dan diam-diam aku namakan perasaan ini adalah perasaan kehilangan kamu.

Aku meraih ponselku yang kini tidak lagi menggunakan backround picture foto kita berdua. Hanya ada beberapa pesan dari grup jurusan kuliahku, tentu saja tidak ada pesan darimu. Ini adalah pagi keenam belas, setiap pagi sebenarnya adalah hal tersulit bagiku; karena aku harus meyakinkan diri bahwa kamu tidak akan lagi meneleponku pagi-pagi sekali. Aku sempat berpikir bahwa melepasmu pergi bukanlah masalah besar bagiku, aku akan menjalani pagiku seperti biasa, nyatanya itupun tak semudah yang aku pikirkan. Aku yang dulu berusaha untuk melepaskanmu, namun mengapa sekarang malah aku merasa paling kehilangan kamu?

Seusai mandi dan membersihkan diri, aku mengunci kamar kosku. Aku memakai sepatu dan duduk di depan balkon lantai dua. Belasan hari yang lalu, aku ingat betul, gadis berambut gelombang dengan dua lesung pipi itu selalu menghadiahkanku pelukan hangat, dan dia sudah membawa dua porsi sarapan. Namun, gadis itu tidak ada lagi di sana, kamu tidak lagi ada di sana. Saat memakai sepatu, aku merenung sebentar. Aku jadi ingat bagaimana leluconmu menceritakan banyolan standup comedy yang baru kamu tonton, kamu beranggapan bahwa candaan comic itu sangat lucu, tapi entah mengapa saat itu aku merasa candaan yang kamu ceritakan sama sekali tidak lucu. Berkali-kali aku menyemburmu dengan ucapan bahwa selera humormu rendah, kamu hanya memasang wajah cemberut, dan untuk menghapus sedih di wajahmu-- aku menghadiahkan pelukan, giliran aku yang memelukmu. 

Jika diingat-ingat, ternyata kita manis juga, atau kamu yang mengubah pria dingin sepertiku berubah jadi romantis dan manis? Aku merelakan diri untuk mengubah diriku, demi membahagiakanmu. Aku tidak tahu apa arti bodoh dan tolol, yang jelas melihat senyummu adalah kedamaian tersendiri bagiku, meskipun mungkin senyum itu juga kamu berikan untuk pria lain. Setelah kita putus pun, aku masih tak yakin bahwa aku adalah satu-satunya yang memiliki dirimu. Kamu itu bintang yang gemerlap, bulan pun akan silau melihat sosokmu, tidak mungkin laki-laki tidak ingin memilikimu. Aku selalu merasa, pria sederhana seperti aku hanyalah mainan yang segera kamu tinggalkan saat kamu di puncak kebosanan. Dan, aku masih tak paham apakah hubungan kita benar-benar hubungan yang kamu perjuangkan?

Aku bersiap berangkat ke kampus, sepeda motorku dengan knalpot berisik itu siap menyapu jalanan dengan bunyinya yang tak karuan. Setiap menaiki sepeda motor ini, aku merasa seperti raja jalanan, terutama jika sedang memboncengmu di belakang. Aku benar-benar jadi raja yang sangat bahagia memiliki ratu serba bisa sepertimu, ratu yang pada akhirnya harus aku lepaskan karena aku merasa menjadi raja untuk ratu yang sempurna sungguhlah sangat melelahkan. 

Sepeda motorku melaju pelan di bilangan Margonda, Depok. Jalan-jalan yang kita lewati berdua, aku sengaja melewati jalan yang sering kita lewati saat mengantarmu ke kampus. Aku masih ingat bagaimana eratnya pelukmu dan lembutnya suaramu ketika kamu mengajakku bicara di atas sepeda motor. Aku masih hapal dengan jelas lirik lagu Taylor Swift yang selalu kamu lantunkan. Sebenarnya, aku sangat benci lirik-lirik cengeng yang dinyanyikan penyanyi perempuan kesukaanmu itu, tapi entah mengapa; jika kau yang bernyanyi, rasanya aku tak ingin kamu berhenti. Enam belas hari ini, aku tidak mendengar suaramu, dan aku menyesal kenapa aku tidak meneleponmu untuk yang terakhir kalinya sewaktu aku memutuskan ingin mengakhiri semua. 

Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan kampusmu. Melepas helmku dan menatap mahasiswi yang terburu-buru memasuki gedung perkuliahan. Aku berharap kamu ada dalam puluhan mahasiswi yang berlalu-lalang di depanku. Dan, kamu tidak ada di sana. Aku berharap kejadian itu bisa terulang lagi, saat kamu turun dari sepeda motorku, memberikan satu kecupan kecil di pipiku, lalu melambaikan tangan sebelum memulai perkuliahan. Hari ini, itu tidak terjadi, dan sekali lagi aku harus membiasakan diri untuk kehilangan rutinitas-rutinitas yang dulu sempat aku lakukan bersamamu.

Mengingat jam makin dekat dengan waktu dimulai perkuliahan di kampusku, aku segera mengendarai sepeda motorku menuju kampus. Aku berusaha menyibukan diri, dengan banyak aktivitas yang membuat aku semakin cepat melupakanmu. Aku lebih banyak bicara dengan teman-temanku tentang anime terbaru yang segera rilis di situs kesukaanku. Dengan segala kesibukan itu, aku berharap bisa dengan cepat melupakanmu. Aku juga mempelajari banyak metode baru untuk mengutak-atik komputer serta jaringan sambil diam-diam berharap agar semua yang aku lakukan bisa membuatku sedikit saja lupa soal kenangan kita.

Hari telah berganti malam, aku telah sampai di kamar kosku. Tempat ini semakin sepi saja. Aku semakin benci kalau harus sendiri lagi, karena kesendirian membuat aku seringkali mengingatmu. Setenang mungkin, aku berusaha menerima keadaan dan kesepian ini. Kuseruput kopiku dan aku telah menghabiskan dua batang rokok. Laptopku berkali-kali memutar suara gadis itu, gadis yang dulu kubenci setengah mati karena kegalauannya yang luar biasa. Aku sendiri juga heran, rutinitasku yang dulu bermain game online setiap malam, kini berubah jadi mendengarkan lagu Taylor Swift.

Dengan begini, aku merasa tenang. Dengan cara seperti ini, setidaknya aku merasa, kamu seakan ada di sampingku.


Dari  pria biasa
yang tidak banyak mengerti cinta.



Monday, 4 May 2015

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Empat hari tanpamu

Kamu boleh bilang aku bodoh dan tolol, sejak mengenalmu, aku memang merasa makin bodoh dan tolol. Kamu membutakan semua dan menggelapkan pandanganku tentang cinta. Aku mencintaimu dan aku tak tahu mengapa pelukmu yang hangat itu selalu membuat aku merasa ingin pulang ke arahmu, meskipun sejak dahulu harusnya aku sadar; kamu bukan tempat pulang yang tepat.

Delapan hari tanpamu akhirnya bisa aku lewati. Ternyata, berminggu-minggu tidak bertemu denganmu tidak membuat aku mati. Aku masih mampu menjalani hidupku sendiri meskipun aku terus mengingatmu berkali-kali. Semua memang tak mudah, Tuan, aku mulai merangkak dan berjalan sendiri. Aku mencari duniaku lagi, membangun semua dari awal lagi, dan membiasakan diri untuk melangkah tanpa bisikan semangat darimu. Dan, selama delapan hari ini, aku bisa melewati itu semua.

Bali cukup menolongku, suasana di sana cukup meneduhkan bagi aku yang sedang remuk. Mungkin, sampai sekarang kamu tak akan tahu bagaimana hancurnya aku, bagaimana aku berjuang mati-matian untuk mengembalikan diriku yang sempat kaucuri. Mungkin, kamu juga tak peduli bagaimana aku mengobati lukaku sendirian. Tentu di sana, kamu tengah berbahagia dengan serial anime terbaru yang kautunggu-tunggu, kamu tak mungkin peduli dengan perempuan yang pernah menghabiskan waktunya bersamamu. Pria sepertimu tak akan pernah paham arti sakit hati yang sesungguhnya. 

Maafkan kebodohanku karena pernah sempat beberapa kali menghubungimu. Dan, telepon serta pesan singkatku memang tidak kaugubris, sesuai dengan perkiraanku. Itu sudah cukup jadi bukti, kamu tak ingin tahu lagi kabarku dan keadaanku. Ya, malam itu, aku berpikir untuk segera menghapus semua nomormu, yang dalam artian luas adalah memutuskan untuk melupakanmu. Malam itu, langit Uluwatu jadi saksi, bahwa aku siap membasuh darahku sendiri dan memaafkan kamu yang menggoreskan jemari tajammu di hatiku.

Beberapa hari ini aku juga tak melanjutkan menulis kisah-kisah tentangmu. Tidak menulis cerita lima hari tanpamu, enam hari tanpamu, tujuh hari tanpamu; karena kurasa luka itu tak perlu dihitung-hitung dan ratapanku tentangmu tak perlu lagi aku umbar-umbar meskipun kalau boleh jujur-- aku sangat tersiksa. Kamu tak akan tahu sakitnya ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya, mungkin sosok keras kepala sepertimu hanya akan mempercayai apa yang kaupikir benar dan kaupikir aku tak pernah terluka karena sikapmu. Kamu salah besar, lukaku sudah cukup dalam, dan luka ini akan jadi tabungan karmamu. Kamu tinggal menunggu waktu, saat ada seorang wanita lain memberimu sakit hati yang sama, seperti kamu dengan mudahnya membuangku seperti sampah.

Aku cukup berada di sini. Jadi penonton dari jauh dan tinggal menunggu waktu, siapa yang akhirnya tertawa lebih lepas dan lebih keras. Aku tidak akan mengotori tanganku dengan melakukan balas dendam, karena aku tahu balasan dari Tuhan akan jauh lebih menyadarkanmu kelak. Air mataku cukup sampai di sini, tangisku harus reda sekarang, dan izinkan aku memulai hidupku yang baru tanpa jeratan darimu.

Tiga bulan ini, kamu mengurungku dalam hubungan yang aku pikir cinta. Kamu sangat tahu bahwa aku bisa sangat baik pada pria yang aku cintai, lalu kamu memanfaatkan semua agar aku bisa jadi bonekamu yang paling setia. Kamu lakukan apapun yang diinginkan wanita, agar aku merasa kamu pun juga turut jatuh cinta. Aku membuka mata dan pada akhirnya aku tahu semua palsu semata.

Sekarang, kamu tidak menyesali kepergianku, tapi bisa aku jamin beberapa bulan kemudian, kamu adalah orang yang merasa paling menyesal karena melepaskanku begitu saja. Ingatlah satu hal ini, apa yang kauperbuat menjadi apa yang kautuai. Jika kautelah menyakitiku, tentu suatu saat kamu juga akan menuai rasa sakit yang sama. Tuan, mungkin saat itu kamu baru menyadari, betapa meninggalkanku adalah kebodohan yang harusnya tak kamu lakukan.

Biarkanlah kamu pergi tanpa penjelasan, aku juga tak butuh lagi penjelasan darimu. Kalaupun kauingin menjelaskan semua, aku yakin hanya kebohongan-kebohongan lain yang akan kamu ucapkan padaku. Pergilah dengan perasaan pengecut, Tuan, selamanya aku akan mengingatmu sebagai pria tak tahu diri yang hanya bisa mengemis tanpa mau berusaha. Dan sekuat mungkin aku berdoa, anak-anakku kelak tidak akan pernah bertemu dengan yang brengsek-brengsek sepertimu.

Terima kasih untuk tiga bulan yang berkesan, menyenangkan, sekaligus menciptakan ketakutan. Terima kasih untuk peluk dan kenangan yang sempat membuatku percaya bahwa ini semua cinta sejati. Terima kasih pernah membuatku tertawa walau sesaat. Terima kasih untuk segala hal yang bisa membuatku cukup bahagia.

Aku marah, tidak mungkin jika manusia tidak marah jika ditinggalkan begitu saja. Tapi, percayalah, aku akan selalu mengingatmu sebagai bahan pembelajaran bahwa aku tak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku percaya, patah hati seperti ini akan sembuh dengan cepat, lalu aku akan menulis novel baru, kemudian sakitku terobati. Patah hati kali ini tentunya akan seperti patah hati yang lainnya, aku akan sembuh dengan sendirinya.

Abang, jaga dirimu baik-baik. Aku akan tetap jadi orang yang paling merindukan dialek Melayu Bengkulu-mu. Kita akan tetap menjadi teman baik yang akan saling melupakan seiring berjalannya waktu. Tetaplah jadi Titanium Helium Einsteinium Osmium-ku yang manis, hingga akhirnya kamu menemukan gadis yang menemanimu salat, karena gadis berkalung salib sepertiku; tak akan mampu menyodorkan kebahagiaan kecil itu untukmu.


dari  mantan kekasihmu
yang masih sulit melupakanmu.

Sebagai gadis yang pernah dan masih mencintaimu, aku juga ingin tahu kabarmu. Bagaimana kabarmu sekarang?

Wednesday, 29 April 2015

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Tiga Hari Tanpamu

Hari keempat tanpamu masih menyisakan pedih di dadaku. Hari-hariku masih terasa kosong tanpamu. Ponselku tak lagi asik kulihat karena tak ada pesan singkat darimu, tidak ada panggilan telepon darimu, dan tidak ada sapaan-sapaan hangat darimu. Kupaksa diriku untuk terbiasa menjalani hari tanpamu, karena hidupku harus tetap berjalan, karena aku tetap harus membahagiakan orangtuaku dengan prestasiku di kampus, karena aku harus tetap menulis untuk para sahabat pembacaku. Hidup memang tetap harus berjalan meskipun berkali-kali aku masih sering mengingatmu. 

Pagi tadi, aku mengawali hari, mencoba membiasakan diri agar tidak mengecek ponsel seusai bangun tidur. Aku tersenyum memandang langit-langit seakan membalas senyum Tuhan yang memberiku napas kehidupan. Aku berterima kasih karena hari-hariku masih menyenangkan untuk dijalani, meskipun tanpamu, rasanya memang semua berbeda. Mungkin, memang salahku yang beberapa saat melupakan Dia ketika sibuk denganmu. Mungkin, aku terlalu sibuk menghitung air mataku tanpa menghitung berapa peluk yang sebenarnya telah Dia berikan padaku. Jemari lembutNya tentu mengulur dari surga, sayangnya aku terlalu tolol untuk memahami kasih tak berbatas itu.

Siang tadi, aku melewati jalan yang dulu sering kita lewati. Sesak di dadaku masih sama, aku masih membayangkan duduk di sepeda motormu, memelukmu, tertawa bersamamu, dan kita sama-sama menyanyikan lagu Taylor Swift seperti orang kesetanan. Kamu teman paling menyenangkan untuk melakukan banyak tindakan "kriminal". Kriminal maksudku adalah perbuatan-perbuatan bodoh yang selalu berhasil membuat aku dan kamu tertawa. Ingatkah kamu saat kamu menggoda seorang pria dengan membunyikan suara knalpot sepeda motormu hingga pria itu hampir jatuh dari sepeda motornya? Kita tertawa seperti bocah kecil yang selalu bahagia, lalu dengan dialek Melayu Bengkulu yang keluar dari bibirmu, kamu meneriaki pria itu. Lalu, saat kita makan sate di bilangan Margonda, Depok. Kencan pertama kita dihiasi dengan seorang banci yang menyanyikan lagu All About That Bass yang dinyanyikan Meghan Trainor, kamu bernyanyi seperti anak kecil sambil berjoged dengan banci tersebut, tanpa merasa ketakutan. Setiap mendengar lagu itu lagi, lagu yang sebenarnya berirama menghentak, entah mengapa di dadaku terasa begitu sesak.

Sore tadi, selesai kelas, aku tak langsung meninggalkan kampus kuning. Beberapa puluh menit aku menatap trotoar tempat biasa kamu menungguku, aku berharap kamu ada di situ; membawa dua helm dan siap mengantarku pulang. Namun, nyatanya semua sia-sia, kamu tidak akan datang, dan harapan itu untuk saat-saat ini adalah harapan yang terlalu tinggi. Entah mengapa kamu yang dulu sangat mudah aku temui, sekarang begitu sulit untuk aku pandangi. Sosokmu tak bisa lagi kucari, kamu pergi begitu saja, menghilang, seperti ditelan bumi. Aku memutuskan untuk berhenti berharap kamu akan datang, aku berjalan menuju Danau UI, dan melangkah ke kampusmu di dekat Stasiun Pondok Cina. Lama sekali aku berdiam di sana, dengan pikiran kosong, dan kembali aku berhenti memutuskan untuk mengingatmu agar aku tidak menyiksa diriku sendiri.

Ada banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan. Kamu telah menjadi bagian diriku dan sangat munafik jika aku mengaku tidak kehilangan kamu. Kamu humoris, menyenangkan, meneduhkan, dan hal sederhana itu selalu berhasil membuatku jatuh cinta berkali-kali. Pelukmu dan rangkulanmu adalah tempat paling sederhana yang selalu ingin aku kunjungi, sayangnya aku tak diizinkan lagi masuk ke dalam duniamu. Sekarang, kita adalah dua orang yang berjauhan, yang berakting seakan tak saling kenal, dan menjalani hari seakan dulu kita tak punya perasaan apapun. Bukankah berpura-pura seakan semua tak pernah terjadi adalah hal yang paling menyakitkan untuk dilewati?

Aku rindu kamu dan selalu ingin tahu kabarmu, tapi aku berusaha melawan perasaan itu, agar aku bisa cepat melupakanmu, kemudian menjalani hari-hariku senormal mungkin. Tiga bulan lamanya, kita pernah bersama, mungkin di mata banyak orang terlalu sebentar, namun hanya aku dan kamu yang tahu bagaimana kita punya kedekatan emosional yang tak pernah orang lain pahami. Aku berterima kasih padamu untuk tiga bulan yang ajaib bagiku. Kamu mengajakku makan sate, kamu mengantarkanku sampai depan rumah meskipun aku tahu naik sepeda motor kopling itu pegalnya bukan main, kamu pernah ada di depan rumah hanya untuk menunjukan ketampananmu saat memakai kemeja, kamu pernah tiba-tiba ada di depan pagar rumah dan berkata betapa kamu sangat mencintaiku, kamu memberiku coklat di hari Valentine, kamu memperkenalkanku pada budaya Melayu Bengkulu, kamu memperkenalkanku dengan anime Jepang kesukaanmu, kamu mengenalkanku dengan band Jepang favoritmu, kamu menemaniku menulis meskipun aku tak memperhatikanmu ketika aku sibuk dengan laptopku, kamu pinjamkan bahumu saat aku menangis, kamu membuatku tertawa tanpa sebab, dan kamu membuatku percaya bahwa cinta sejati itu selalu ada.

Aku tak tahu apakah semua yang kamu rasakan benar cinta atau hanya iseng belaka. Yang jelas, kamu berhasil membuatku jatuh cinta, dan berhasil membuatku menangis seharian ketika kamu mengakhiri hubungan ini tanpa penjelasan. Kalau pun kamu tak ingin menemuiku lagi, kalau pun kita tak akan pernah seperti dulu lagi, aku hanya punya satu permintaan. Tolonglah tetap membawa namaku dalam salat lima waktumu sesering ketika aku selalu menyebut namamu seusai membaca Alkitabku.

Oh, ya, beberapa hari ini aku menghabiskan waktu di Bali. Hitung-hitung, obat patah hati. Kamu tahu apa janjimu dulu? Kita akan ke Bali berdua, tapi nyatanya aku ke Bali sendiri, itu pun agar aku bisa melupakan pedihnya ditinggalkan olehmu. Kalau kamu jadi merasa tak enak, tepati saja janjimu yang paling sederhana. Mengajakku ke Dunia Fantasi, Jakarta, mudah bukan?



Dari Sagittariusmu,
yang mudah menangis.


Tuesday, 28 April 2015

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Dua hari tanpamu

Ini tidak pernah semudah yang aku bayangkan. Tiga hari tanpamu rasanya masih seneraka ketika pertama kali kamu bilang ingin mengakhiri semua. Hingga detik ini, aku masih belum bisa menerima kepergianmu yang tiba-tiba. Yang masih bisa aku lakukan sampai saat ini hanyalah berdoa, berharap semua luka ini segera berakhir dan aku bisa menjalani hidupku senormal dulu lagi.

Aku masih rajin memeriksa ponselku, berharap masih ada sisa perhatianmu untukku, berharap kamu menyapaku dan menghubungiku lebih dulu. Nyatanya, hanya anganku saja yang menetap, kamu tidak mengabariku, dan aku sudah bisa menebak bahwa mungkin saat ini kamu tidak merasakan yang aku rasakan. Tiga hari ini, aku masih merasa semua berantakan dan kalut. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana hidupku, yang jelas aku remuk. Aku di sini seperti orang yang kehilangan arah dan tak tahu ingin melangkah ke mana. Kamu terlanjur mengajakku melangkah terlalu jauh hingga aku lupa cara untuk berbalik ke arah yang seharusnya sejak dahulu aku tuju-- dan tak perlu mengikutimu.

Aku tak tahu apa daya magismu hingga apapun yang aku lihat dan aku rasa selalu tertuju padamu. Sebelum senja tiba, aku duduk di dekat danau UI, merasakan embusan angin dan menatap tenangnya air danau. Aku tak pernah merasa sesedih ini, perasaan ini membuat aku selalu ingin menyendiri, dan saat aku sendiri seringkali juga aku memikirkanmu. Hanya dentingan lembut sepeda kuning yang terdengar, aku masih terdiam dan tak bersuara. Dari pinggir Danau UI, bisa kulihat bangunan baru yang megah di dekat Stasiun Pondok Cina, di sanalah kampusmu, dan mungkin saat itu kamu sedang di sana, entah melakukan apa. Tapi, hidupmu sekarang pasti tak seburuk dan seberantakan hidupku yang sekarang. Aku tahu kamu tentu dengan mudah bisa melupakanku, kamu bisa kembali normal menjalankan hidupmu, dan kamu pasti tak merasa kehilangan apapun.

Sore tadi, aku menghabiskan waktu sendirian di dekat Danau UI, hingga azan magrib menyapa; aku memutuskan untuk pulang. Aku berjalan pelan-pelan, menahan air mata agar tidak jatuh perlahan. Sampai duduk di kendaraan umum, aku hanya menatap jalanan yang dulu sering kita lewati. Tiba-tiba aku benci seluruh sudut kota ini. Jalanan masih begitu macet. Dulu, kita menunggu kemacetan usai sampil bercanda. Kamu bercerita dengan dialek Bengkulu Melayu yang selalu berhasil membuatku tertawa geli. Aku benci semua lampu merah yang aku lewati. Aku jadi ingat setiap detik saat menunggu lampu hijau, aku memijati tubuhmu, dan kamu memegangi tanganku dengan lembut. Aku benci apapun tentang kota ini, aku benci setiap sudut jalan yang selalu membuatku mengingatmu.

Aku sebenarnya heran dengan diriku sendiri. Aku duduk di angkutan umum, bukan di sepeda motormu yang knalpotnya berisik tak karuan, tapi masih tetap bisa membuatku nyaman ketika aku memelukmu dari belakang. Rasanya semua berbeda dan aneh. Aku tidak mendengar suara berisik dari knalpot sepeda motormu, yang aku dengar hanya klakson kendaraan bermotor yang berlomba melewati jalan dengan cepat. Aku tidak duduk di motor gedemu, yang tingginya mungkin hampir satu meter. Aku malah duduk di angkutan umum dan tidak memeluk siapapun. Aku harus terbiasa dengan seluruh keanehan ini, dengan hal-hal yang harus aku lewati tanpamu.

Turun dari angkutan umum, ojeg mengantarku dari depan gang hingga masuk perumahan. Polisi tidur di jalanan perumahan terlewati dengan sangat mulus, padahal dulu, ketika masih bersamamu, aku harus memelukmu kuat-kuat agar tidak membuat sepada motormu berguncang hebat. Kenangan sederhana yang belum aku lupakan, setiap inci tentangmu selalu penting di mataku. Sesampainya di depan rumah, aku turun dan membayar ongkos, langsung kubuka pagar rumah, kemudian berjalan memasuki rumahku. Ah, padahal beberapa minggu yang lalu, aku masih ingat kamu menyisakan sedikit saja waktu untuk sekadar mencium kening dan pipiku, mencuri pelukan, kemudian pamit pulang. Aku pun tak langsung masuk rumah, aku menatapmu yang pergi, membiarkan punggungmu menghilang dari pandangan, dan baru tenang memasuki rumah. Aku rindu hal-hal sederhana itu, yang mungkin tak penting bagimu, tetapi sungguh melekat bagiku.

Sudah beberapa hari ini, tak aku dengar suara berisik dari knalpot sepeda motormu. Seringkali ketika sedang sunyi menyelesaikan tulisan, samar-samar kudengar ada suara knalpot yang mirip dengan suara sepeda motormu. Kutahu itu bukan kamu walaupun jauh di lubuk hati terdalam, aku sangat ingin bisa bertemu denganmu lagi, meskipun hanya sesaat. Sekarang, aku merasa seperti orang bodoh yang tetap memencet ban ketika tahu ban itu sudah kempes. Aku masih menatap ponselku, padahal aku tahu kamu tak akan pernah sms. 

Aku masih sering menunggu di depan rumah, berharap bisa mendengar sepeda motormu yang berknalpot berisik itu. Aku masih sering tiba-tiba keluar rumah dan berdiam di depan pagar, berharap masih bisa menyaksikan punggungmu yang pergi menjauh, menatap sepeda motormu yang meninggalkan rumahku-- untuk terakhir kalinya.


Dari sosok yang mungkin hanya kamu anggap adik,
yang selalu merasa tidak pernah mampu membahagiakanmu.


Monday, 27 April 2015

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Satu hari tanpamu

Semua masih seneraka hari pertama. Aku masih sesak ketika mengingat tentangmu, tentang cerita kita yang telah menjadi abu, yang kaubakar dengan begitu saja di depan mataku. Dan, aku yang terlanjur rapuh ini hanya bisa diam, menatapmu pergi, seakan tak punya kesempatan untuk meminta semua agar kembali padaku. Kamu pergi begitu saja, tanpa pesan ataupun berita, semua itu makin membuatku tersiksa serta mati rasa.

Di mataku, kamu sempurna, sesempurna pertemuan kita yang ternyata membawa perasaan yang berbeda. Aku tak bisa menebak bahwa semua ini cinta, tapi apakah namanya jika aku berkali-kali  menangisimu; saat kamu bilang ingin mengakhiri semua? Aku tak yakin, apakah kebersamaan kita selama tiga bulan itu telah menimbulkan perasaan kasih sayang dan takut kehilangan, namun apakah namanya jika aku merasa sendiri ketika kamu tak melengkapiku? Hari-hariku betapa sepi tanpamu dan anehnya aku begitu mudah menangis setiap melihat fotomu. Mengapa kamu malah makin tampan justru ketika kita tak lagi bersama dan tak lagi menjalani cinta? Aku rindu hidungmu, rindu rambutmu, rindu lekuk senyuman dari bibirmu, rindu tawamu, dan rindu banyak hal yang dulu masih bisa kita lewati berdua.

Hari ini, aku banyak terdiam. Berkali-kali aku menatap ponselku, berharap kamu berubah pikiran, berharap semua ini hanya candaan. Nyatanya, ini sungguh terjadi dan bukan candaan. Biasanya kamu menyapaku entah melalui pesan singkat, melalui percakapan kita di ponsel, dan meneleponku dengan suaramu yang khas itu. Rasanya semua ini makin aneh ketika aku mencoba untuk menganggap tak ada bedanya hari-hari tanpamu dan hari-hari ketika bersamamu. Semakin aku memaksakan diri terlihat baik-baik saja, semakin aku mendapati diriku yang tak lagi "bernyawa". Aku kehilangan kamu, separuh diriku yang pergi tanpa bilang-bilang. Ditinggalkan tanpa penjelasan membuatku makin tersiksa. 

Di depan laptopku yang hanya bisa menimbulkan suara jentikan, aku menatap diriku sendiri dalam tulisan. Sebenarnya, harapanku sederhana saja, kamu memberiku sebuah pelukan hangat dan berjanji tidak akan meninggalkanku. Dan, kenyataan yang harus kuterima dengan akal sehatku bahwa semua yang aku harapkan hanya mimpi belaka, aku harus berjalan sendirian lagi, meskipun sebenarnya aku merasa semua akan lebih baik jika aku menjalani hari-hariku denganmu. Kadang, harapan memang hanya akan berakhir dengan harapan, dan kehilangan kamu adalah sebuah kesedihan yang selanjutnya akan menghasilkan tangisan.

Dua hari ini, yang aku pikirkan hanya satu hal. Mengapa semua ini bisa terjadi justru ketika aku yakin ingin mempertahankanmu? Mengapa kamu pergi justru ketika aku masih ingin menyelami dirimu? Mimpi-mimpi yang telah aku buat seketika ambruk hanya karena dua kata darimu. "Kita putus." 

Terlalu mudah bagimu untuk mencampakan gadis bodoh sepertiku, gadis yang setia mencintaimu tanpa menghitung apa saja yang telah dia berikan padamu, gadis yang tak menghitung seberapa banyak darahnya mengalir hanya untuk mempertahankan kamu, gadis yang tak meminta balasan apapun darimu selain peluk hangat dan kecup di jidat. Ah, ya, memang aku yang tolol, karena tak bisa membedakan apakah di matamu sungguh ada cinta atau hanya dramamu belaka. Namun, tiga bulan bersamamu sungguh membuatku terlena, mabuk kepayang, dan bahkan sakit hati sendirian.

Dua hari ini, tak banyak yang aku lakukan. Aku masih kesesakan dengan tangisku sendiri, aku masih tidak bisa berdiri dengan tegak karena merasa seluruh tulangku tak lagi punya daya dan upaya untuk bangkit. Aku seperti manusia yang badannya sakit di segala sisi, yang tidak ingin melakukan hal lain-- selain menangisimu.

Dari perempuan,
yang terus menangisimu.



Sunday, 26 April 2015

#SerialTanpamu

Pagi tadi, aku membuka mata dengan perasaan kosong. Kutatap langit-langit kamar yang terasa makin kosong dan dinginnya pendingin ruangan menambah bekunya suasana saat itu. Ponselku berdering dan kuperiksa semua pesan di sana, tak ada pesan darimu. Sudah lima belas jam sejak kaubilang ingin mengakhiri hubungan dan belasan jam lalu aku menangisimu semalam suntuk. Dengan mengumpulkan tenaga, aku berusaha bercermin. Lihatlah wajah lusuh ini, mata sembab, rambut berantakan tak karuan, dan tatapan kosong yang terpantul di cermin.

Aku tidak yakin bisa melewati ini semua. Sejak kamu bilang lebih baik aku bebas dengan hidupku dan kamu bebas dengan hidupmu, rasanya aku tidak lagi punya upaya untuk menjalani hari-hariku. Memang ini terkesan bodoh, setiap orang yang sedang bersedih dan patah hati pasti merasa bahwa dirinya adalah sosok paling sedih sedunia. Dan aku merasakan itu semua. Perasaan ini membuat aku berantakan dan tak lagi punya daya untuk menata kembali hidupku. Semalam, aku menangis sejadi-jadinya, sekeras yang aku bisa. Ini benar-benar tidak adil buatku, buat sosok yang selalu mencintai dan memperhatikanmu.

Dengan enteng, dua minggu lebih kamu menghilang dan tak ada kabar. Aku mencarimu ke mana-mana, diam-diam memperhatikanmu dari sosial media. Ah, meskipun aku tak menemukan jawaban apapun, setidaknya dengan tetap mencarimu dan menganggap bahwa hubungan kita masih dalam keadaan baik-baik saja; cukup membuat aku tenang dan lega. Selama dua minggu, aku tidak mendapatkan jawaban apapun. Kamu bagai asap rokok yang menggantung di udara, terlihat sesaat kemudian pergi entah ke mana. Sosokmu menjauh tanpa bisa aku memprediksi ke mana kamu pergi.

Sekarang, aku masih duduk di sini, di depan laptopku yang pendiam namun tetap menjadi pendengar yang baik. Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku menangis seharian ini, dengan sisa air mata yang tidak tahu harus berhenti terjatuh kapan. Dalam pikiranku masih ada bayang-bayangmu dan kenangan-kenangan kita yang tercipta meskipun bagimu mungkin hubungan ini tak berarti apa-apa. Memang salahku yang terlalu menganggapmu berarti sementara kamu tak peduli setengah mati. Salahku yang mati-matian menganggap hubungan kita pantas untuk diperjuangkan, meskipun selama ini kamu tidak menunjukan keseriusan apapun.

Entah mengapa, sampai hari ini, aku tak pernah menyesal pernah memulai semua denganmu, yang aku sesali mengapa kamu meninggalkanku tanpa penjelasan apapun. Kamu tidak akan pernah tahu sakitnya ditinggalkan ketika aku dalam keadaan sangat mencintaimu. Kamu tidak akan pernah paham betapa aku ingin mempertahankanmu meskipun aku tahu kita berbeda dalam banyak hal. Aku selalu menganggapmu yang terbaik meskipun banyak pria berusaha mendekati dan merebut hatiku darimu. Aku meninggalkan mereka, demi kamu-- karena aku percaya bahwa pria biasa sepertimu pun punya kesempatan yang sama untuk membahagiakanku.

Aku hanyut terlalu jauh, pertemuan kita benar-benar membuat aku percaya bahwa ini cinta. Aku percaya padamu, percaya pada jemari yang membawaku pergi dan menari. Kamulah yang berhasil membawaku terbang terlalu jauh, lalu menjatuhkanku ketika kamu mungkin tak lagi penasaran dengan sosokku, ketika kamu bosan dengan gadis yang mungkin tak lagi terlihat berharga di matamu. Aku tak pernah tahu apakah cinta yang terucap dari bibirmu sungguhlah cinta atau hanya sandiwara yang kamu perankan dengan sangat baik. Aku tak mengerti apakah rindu yang seringkali terucap dari matamu hanyalah drama yang kamu pentaskan dengan sangat lihai.

Aku tak tahu siapakah sosok yang sebenarnya sungguh aku cintai ini, apakah kamu adalah orang baik-baik yang memang tulus mencintaiku atau hanya orang yang senang meloncat dari satu hubungan ke hubungan lain untuk kepuasannya sendiri? Aku tak tahu siapa dirimu yang sekarang, kamu berubah jadi orang yang paling tidak aku kenal. Kamu berubah jadi sosok yang berbeda dari pertemuan awal kita.

Aku kehilangan dirimu yang dulu. Aku menangis dan berdoa, memohon pada Tuhan agar segera mengembalikan sosokmu yang dulu pernah sangat aku kenal. Aku masih menangis dan berantakan, aku kalut dan mengaku kalah.


dari gadis yang berhasil kaubuat;
menangis.



- |